Blog & Artikel

Kumpulan artikel, tips, dan panduan praktis seputar tumbuh kembang anak, terapi okupasi, wicara, perilaku, dan pola makan. Ditulis oleh tim terapis Okiro untuk membantu orang tua memahami dan mendukung anak di rumah.

Last Updated: February 27, 2025

Strategies for Oral Seeking Behavior

Latar Belakang

Sebagai terapis okupasi (OT) kami sering mendapati pertanyaan terkait bagaimana cara yang tepat untuk mengatasi oral sensory seeking pada anak. Kami memahami betul mengapa hal ini menjadi perhatian besar bagi para orangtua maupun caregiver, yaitu karena dapat menimbulkan risiko kesehatan dan keselamatan yang serius pada anak. Ada banyak alasan mengapa anak bisa melakukan oral sensory seeking serta apa saja yang perlu diperhatikan saat menghadapinya. Namun, sebelum membahas lebih jauh tentang hal tersebut, penting bagi orangtua mengetahui apa yang dimaksud dengan oral sensory seeking. Oral sensory seeking adalah kecenderungan anak untuk mencari stimulasi oral-motor dengan memasukkan benda ke mulut, mengunyah, mengisap, atau mengeksplor area mulut, contohnya seperti mengunyah lengan baju, pensil, atau benda-benda yang bukan makanan. Sebenarnya oral sensory seeking Ini bukan selalu sesuatu yang negatif, lalu untuk apa mereka melakukan perilaku tersebut?

Mengapa Anak Melakukan Oral Seeking

Sama seperti pendekatan berbasis sensori lainnya, tidak ada solusi tunggal yang cocok diterapkan untuk semua kondisi anak. Oleh karena itu, orangtua harus jeli dalam melihat adanya kemungkinan-kemungkinan yang menjadi alasan mengapa anak mencari input sensorik oral tambahan. Anak memasukkan benda ke mulut tidak selalu disebabkan oleh masalah sensorik, ada faktor lain yang bisa memicu perilaku tersebut seperti:

  • Anxiety atau rasa cemas

    Apakah anakmu sering mengisap jempol, lengan baju, mengisap kerah bajunya? atau apakah anakmu sering menggigiti kukunya? Sesekali coba perhatikan kapan anak biasanya mengisap atau memasukkan benda ke mulutnya. Lihat juga bagaimana perasaannya saat itu. Apakah ada pola tertentu yang tampak? misalnya, perilaku mengisap pada anak meningkat saat anak sedang stress atau berada di situasi yang membuatnya stress, sehingga ada kemungkinan kecemasan berperan dalam meningkatkan perilaku mengisap pada anak. Kegiatan mengisap atau mengeksplorasi benda menggunakan mulut, sebenarnya merupakan bentuk dari self-soothing, yaitu cara anak menenangkan dirinya. Anak yang memiliki kemampuan untuk menenangkan dirinya ketika cemas merupakan hal yang baik, kok. Hanya saja, kita tetap perlu melihat apakah coping (cara yang dilakukan anak dalam mengelola/menghadapi masalah) tersebut sesuai dengan usianya, serta apakah benda yang dimasukkan ke mulut tergolong aman dan tidak menimbulkan risiko kesehatan yang serius? Dalam situasi ini, pendekatan yang berfokus pada kesehatan mental dan strategi coping mungkin akan membantu.

  • Kebosanan

    Beberapa orang sering menyarankan untuk mengunyah permen karet pada anak yang memiliki kesulitan fokus. Ternyata ada alasan di balik itu, beberapa studi mengatakan bahwa mengunyah merupakan salah satu bentuk self-regulating yaitu cara seseorang mengendalikan diri sendiri agar bisa lebih tenang, fokus dan bertindak sesuai situasi. Mengunyah bisa membantu mereka lebih berkonsentrasi dalam melakukan sesuatu. Pada umumnya, mengunyah permen karet tidak diperbolehkan selama kegiatan belajar di sekolah, namun pengecualian bagi anak yang memiliki kebutuhan khusus. Anak berkebutuhan khusus biasanya memiliki IEP (Individualized Education Program) atau rencana pendidikan individu yang mana di dalam rancangan tersebut diperbolehkan untuk mengunyah permen karet atau alat oral sensorik agar mereka lebih fokus dan tenang dalam mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Pada saat di kelas, coba perhatikan apakah perilaku mengunyah meningkat saat anak sedang down time (istirahat, menunggu giliran atau ketika guru sedang menjelaskan materi)? Perhatikan juga bagaimana tingkat partisipatif anak saat di dalam kelas, apakah tugas yang diberikan oleh guru terlalu sulit bagi anak? ataukah justru terlalu mudah bagi anak? sehingga hal tersebut membuatnya terlibat dalam perilaku mengunyah.

  • Kebutuhan Medis

    Kegiatan anak dalam mengeksplorasi benda serta lingkungan sekitar menggunakan indera yang mereka punya, terutama mulut, secara perkembangan merupakan hal yang wajar. Untuk memahami perilaku ini lebih jauh, apakah para orangtua sudah memeriksakan penglihatan dan pendengaran anak secara rutin? Lalu apa kaitannya kebiasaan menggigit, mengunyah dan memasukkan benda ke mulut dengan kondisi penglihatan serta pendengaran anak? Ternyata ada kaitannya, lho! Bisa jadi anak menggunakan kebiasaan memasukkan benda ke mulut untuk mengganti atau menutupi keterbatasan pada indera penglihatan dan pendengarannya. Sederhananya, jika kemampuan penglihatan atau pendengaran anak terbatas, anak akan lebih cenderung mengandalkan indera lain, termasuk mulut, untuk mendapatkan stimulasi atau informasi mengenai hal di sekitarnya. Contoh: anak dengan penglihatan terbatas mungkin akan lebih sering memasukkan benda ke dalam mulutnya dengan tujuan mendapatkan informasi mengenai tekstur, atau bentuk dari benda tersebut karena ia tidak mampu menggunakan indera penglihatannya untuk eksplorasi. Selain itu, pastikan juga anak tidak memiliki masalah gigi atau rasa nyeri pada area mulutnya. Bagi anak yang sulit berkomunikasi, terkadang kebiasaan menggigit atau mengunyah bisa jadi disebabkan oleh nyeri gigi atau rahang.

  • Sensory Seeker

    Apabila para orangtua sudah memastikan bahwa sepertinya anak-anak kalian melakukan oral sensory seeking bukan karena alasan-alasan di atas, maka kalian bisa meminta bantuan terapis okupasi (OT) untuk melihat apakah anak memiliki perbedaan dalam pemrosesan sensorik. OT paham bagaimana cara otak menerima, menafsirkan, dan merespons rangsangan yang masuk sepanjang hari. Terkadang, anak dengan gangguan pemrosesan sensorik tidak sepenuhnya percaya pada inderanya sendiri, sehingga mereka mengeksplorasi benda dengan berbagai cara untuk memastikan apa yang mereka rasakan. Otot rahang bisa mendapat banyak tekanan dalam (deep pressure/proprioseptif input) yang menenangkan, sehingga anak kadang mengunyah atau menggigit benda bertujuan untuk menenangkan diri. Jika kebiasaan ini muncul karena kebutuhan sensorik, aktivitas fisik yang yang sifatnya memberi tekanan ke seluruh tubuh juga bisa membantu mengurangi kebiasaan mengunyah. Perhatikan juga apakah anak terlalu terstimulasi oleh lingkungan, misalnya lampu terlalu terang, kondisi sekitar terlalu bising atau terlalu banyak aktivitas, sehingga mereka mengunyah untuk menenangkan diri. Dikarenakan kemungkinan penyebab anak melakukan perilaku mengunyah itu banyak, mungkin perlu menemui OT agar mendapatkan evaluasi pemrosesan sensorik sehingga menemukan cara terbaik untuk mengatasinya.

Alat Sensorik untuk Membantu Mengatur Diri (Self-Regulation)

Berikut adalah beberapa ide yang bisa digunakan sebagai alternatif mengunyah yang aman untuk anak.

  • Permen karet.
  • Z-vibe (alat terapi oral motor yang bergetar) atau sikat gigi elektrik. Z-vibe biasanya digunakan oleh terapis okupasi, wicara atau orangtua yang sudah terlatih.
  • Minum cairan kental menggunakan sedotan.
  • Snack renyah/kenyal atau mengisap permen keras (misalnya: lollipop).
  • Aktivitas fisik dan/atau aktivitas fisik singkat seperti lompat di tempat, dorong atau tarik benda berat (movement breaks).
  • Pasif propriosepsi. Misalnya: memberikan anak benda yang berbobot, tekanan pada sendi. (wajib untuk didiskusikan dengan terapis okupasi kepercayaanmu tentang bagaimana cara melakukannya)
  • Semprotan asam
  • Meniup gelembung sabun (bubbles). Kegiatan ini bagus untuk regulasi diri.
  • Alat sensorik oral/alat kunyah*

    *Ada banyak hal yang perlu diperhatikan saat memilih alat sensorik oral. Pertama, konsultasikan terlebih dahulu dengan terapis okupasi kepercayaan anda. Kedua, para orangtua wajib berhati-hati saat memilih, karena banyak alat sensorik oral yang harganya murah wkwkw apa ya mosok murah... di pasaran dengan kualitas yang mudah rusak, mengandung BPA, dan lain-lain. Ketiga, pertimbangkan juga kesesuaian usia dan potensi tersedak. Keempat, jangan mengabaikan kebersihan alat sensorik oral. Pastikan orangtua tahu siapa yang akan membersihkannya dan kapan harus dibersihkan, serta disediakan tempat penyimpanan yang aman dan bersih.

Ada Pertanyaan tentang artikel diatas?

Jika ada bagian dari artikel diatas yang kurang jelas, tim Okiro siap membantu menjelaskan.

Hubungi kami